Do’a dan Dzikir menurut Majelis Tarjih dan Tajdid
- Membaca Istighfar Tiga Kali
أَسْتَغْفِرُ
اللَّهَ ، أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ ، أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ
“Aku mohon
ampunan kepada Allah, Aku mohon ampunan kepada Allah, Aku mohon ampunan kepada
Allah”.
- Mengucapkan Allahumma Antas Salaam…
اللَّهُمَّ
أَنْتَ السَّلاَمُ وَمِنْكَ السَّلاَمُ تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلاَلِ
وَالْإِكْرَامِ
“Ya Allah,
Engkau lah Yang Maha Damai, dan dari-Mu jua (datang) kedamaian; Maha Banyak
berkah-Mu wahai Tuhan Pemilik keagungan dan kemuliaan”.
- Membaca Bacaan Laa Ilaaha Illallah…
لاَ إِلَهَ
إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ
عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ لاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ لاَ إِلَهَ
إِلَّا اللَّهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ وَلَهُ النِّعْمَةُ وَلَهُ
الْفَضْلُ وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مُخْلِصِينَ
لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ
“Tiada Tuhan
selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Dialah yang memiliki segala
kekuasaan, dan Dia pula yang memiliki segala pujian, dan Dia Maha Kuasa
atas segala sesuatu. Tiada daya dan tiada kekuatan melainkan hanya Allah.
Dialah yang memiliki nikmat dan Dia pula yang memiliki segala keutamaan, dan
Dia yang memiliki segala pujian yang indah. Tiada Tuhan selain Allah dengan
mengikhlaskan agama kepada-Nya, walaupun orang-orang kafir membenci”.
- Membaca Laa Ilaaha Illallah…
لاَ إِلَهَ
إِلاََّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ
وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ اللَّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلاَ
مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ
“Tiada Tuhan
selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Dialah yang memiliki segala
kekuasaan dan Dia pula yang memiliki segala pujian, dan Dia Maha Kuasa atas
segala sesuatu. Ya Allah, tidak ada satupun yang menghalangi apa saja yang
Engkau berikan, dan tidak ada satupun yang dapat memberi apa saja yang Engkau
halangi. Dan kekayaan itu tidak berguna bagi pemiliknya (untuk menyelamatkan
diri) dari (siksa)Mu”.
- Membaca Tasbih, Tahmid dan Takbir
سُبْحَانَ
اللهِ (x33)،
اَلَْحَمْدَُ اللَّهَ (x33)،
اللهُ أَكْبَرُ (x33)
“Maha
suci Allah (33 kali), segala puji bagi Allah (33 kali), Allah Maha Besar (33
kali).
- Membaca laa ilaaha illallah
لاَ إِلَهَ
إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ
عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Tiada Tuhan
selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Dialah yang memiliki segala
kekuasaan dan Dia pula yang memiliki segala pujian, dan Dia Maha Kuasa atas
segala sesuatu”
- Membaca Do’a
اللَّهُمَّ
إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ اْلبُخْلِ وَاَعُوْذُبِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَأَعُوذُ بِكَ
أَنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا
وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ
“Ya Allah
aku berlindung kepada-Mu dari sifat bakhil, aku berlindung kepada-Mudari sifat
pengecut, aku berlindung kepada-Mu dari usia pikun, aku berlindung kepada-Mu
dari fitnah dunia, dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur”.
- 8. Membaca Do’a Allahumma A’innii…
اللَّهُمَّ
أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
“Ya Allah
tolonglah aku dalam mengingat kepada-Mu, dalam bersyukur kepada-Mu, dan
melakukan ibadah yang baik kepada-Mu”.
- 9. Membaca Rabbi Qinii….
رَبِّ قِنِي
عَذَابَكَ يَوْمَ تَبْعَثُ أَوْ تَجْمَعُ عِبَادَكَ
“Tuhan kami
lindungilah kami dari adzabmu, pada hari Engkau bangkitkan atau Engkau
kumpulkan hamba-hambaMu”.
- Membaca Ayat Kursi
“Allah,
tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan dia yang hidup kekal lagi
terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur.
Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. tiada yang dapat memberi syafa’at
di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka
dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan
apa yang dikehendaki-Nya. Kursi[161] Allah meliputi langit dan bumi. dan Allah
tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha besar”. [1]
- Membaca Al Mu’awwidzaat (Al Ikhlas, Al Falaq dan An Naas)
“Katakanlah:
“Dia-lah Allah, yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya
segala sesuatu.Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, Dan tidak ada
seorangpun yang setara dengan Dia.”
Katakanlah:
“Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh, Dari kejahatan makhluk-Nya,
Dan dari kejahatan malam apabila Telah gelap gulita,Dan dari kejahatan
wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul. Dan dari kejahatan
pendengki bila ia dengki.”
“Katakanlah:
“Aku berlidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja
manusia. Sembahan manusia.Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa
bersembunyi,Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan)
jin dan manusia. Dari (golongan) jin dan manusia.”
Alasan Dalil :
- Membaca Istighfar Tiga Kali
أَسْتَغْفِرُ
اللَّهَ ، أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ ، أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ
- Mengucapkan Allahumma Antas Salaam…
اللَّهُمَّ
أَنْتَ السَّلاَمُ وَمِنْكَ السَّلاَمُ تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلاَلِ
وَالْإِكْرَامِ
Berdasarkan
hadits dari Tsauban:
عَنْ
ثَوْبَانَ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا
انْصَرَفَ مِنْ صَلَاتِهِ اسْتَغْفَرَ ثَلَاثًا وَقَالَ اللَّهُمَّ أَنْتَ
السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ تَبَارَكْتَ ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ
قَالَ الْوَلِيدُ فَقُلْتُ لِلْأَوْزَاعِيِّ كَيْفَ الْاسْتِغْفَارُ قَالَ تَقُولُ
أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ
“Diriwayatkan
dari Tsauban ia berkata: “Adalah Rasulullah saw apabila selesai melaksanakan
shalatnya beliau mengucapkan Astaghfirullah tiga kali, kemudian
mengucapkan: Allahumma antas salaam, wa minkas-salaam tabaarakta
Dzal-jalaali wal-ikraam”. [2]
عَنْ
ثَوْبَانَ مَوْلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كَانَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَنْصَرِفَ
مِنْ صَلَاتِهِ اسْتَغْفَرَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ قَالَ اللَّهُمَّ أَنْتَ
السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ
“Diriwayatkan
dari Tsauban ia berkata: “Adalah Rasulullah saw apabila selesai melaksanakan
shalatnya beliau mengucapkan Astaghfirullah tiga kali, kemudian
mengucapkan: Allahumma antas salaam, wa minkas-salaam tabaarakta Dzal-jalaali
wal-ikraam”.
Dalam
riwayat ibnu Numair,(يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ ) Yaa dzal jalaali wal ikraam, juga
dari abdul Harits bin ‘Abdis Shamad dari jalur ‘Aisyah menggunakan lafadz, Ya
dzal jalaali wal ikraam”.[3]
- Membaca Bacaan Laa Ilaaha Illallah…
لاَ إِلَهَ
إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ
عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ لاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ لاَ إِلَهَ
إِلَّا اللَّهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ وَلَهُ النِّعْمَةُ وَلَهُ
الْفَضْلُ وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مُخْلِصِينَ
لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ
Berdasarkan hadits dari Abu Zubair:
عَنْ أَبِي
الزُّبَيْرِ قَالَ كَانَ ابْنُ الزُّبَيْرِ يَقُولُ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ
حِينَ يُسَلِّمُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ
الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ لَا حَوْلَ وَلَا
قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا
إِيَّاهُ لَهُ النِّعْمَةُ وَلَهُ الْفَضْلُ وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ لَا
إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ
وَقَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُهَلِّلُ
بِهِنَّ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ
“Diriwayatkan
dari Abu Zubair ia berkata: “Adalah Ibnu Zubair setiap selesai shalat sesudah
mengucapkan salamselalu membaca Laa ilaaha illallah wahdahu laa syariikalah,
lahul-mulku wa lahul-hamdu, wa huwa ‘laa kulli syai-inqadiir, laa haula wa laa
quwwata illaa billaah, laa ilaaha illallah, wa laa na’budu illaa iyyaah,
lahun-ni’matu wa lahul-fadllu, wa lahuts-tsanaa’ulhasan, laa ilaaha illallaahu
mukhlishiina lahud-diina walau karihal-kaafiruun. Dan Ibnu Zubair
mengatakan:”Adalah Rasulullah saw selalu mengucapkan laa ilaaha illaaha
illallah disertai dengan lainnya setiap selesai melaksanakan shalat”.[4]
- Membaca Laa Ilaaha Illallah…
لاَ إِلَهَ
إِلاََّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ
وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ اللَّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلاَ
مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ
Berdasarkan
hadits dari Mughirah bin Syu’bah:
عن مغيرة بن
شعبة أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ فِي
دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ إِذَا سَلَّمَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا
شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
اللَّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلاَ
يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ
“Dari
Mughirah bin Syuطbah, bahwasanya Rasulullah saw,
setiap selesai shalat membaca:”Laa ilaaha illallah wahdahuu laa syariika
lah, lahul mulku walahul hamdu wa huwa ‘alaa kulli syai-inqadiir, Allahumma laa
maani’a limaa a’thaita , walaa mu’thiya limaa mana’ta, walaa yanfa’u dzal jaddi
minkal jadd”. [5]
- Membaca Tasbih, Tahmid dan Takbir
سُبْحَانَ
اللهِ (x33)،
اَلَْحَمْدَُ اللَّهَ (x33)،
اللهُ أَكْبَرُ (x33)
- Membaca laa ilaaha illallah
لاَ إِلَهَ
إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ
عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Berdasarkan
hadits dari Abu Hurairah:
عَنْ أَبِي
هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ سَبَّحَ
اللَّهَ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَحَمِدَ اللَّهَ
ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَكَبَّرَ اللَّهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ فَتْلِكَ تِسْعَةٌ
وَتِسْعُونَ وَقَالَ تَمَامَ الْمِائَةِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا
شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
غُفِرَتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ
“Dari Abu
Hurairah, dari Rasulullah saw., (Beliau bersabda):”subhaanallah tiga
puluh tiga kali, al hamdulullah tiga puluh tiga kali, dan Allahu
Akbar tiga puluh tiga kali, setiap selesai shalat, dan untuk mencukupkan
seratus ia membaca laa ilaaha illallah wahdahuu laa syariika lah, lahul
mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘alaa kulli syai-inqadiir, niscaya diampuni
dosa-dosanya meskipun sebanyak buih di laut”. [6]
- Membaca Do’a
اللَّهُمَّ
إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ اْلبُخْلِ وَاَعُوْذُبِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَأَعُوذُ بِكَ
أَنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا
وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ
Berdasarkan
hadits dari Sa’ad bin Abi Waqash:
عن سَعْدِ
يُعَلِّمُ بَنِيهِ هَؤُلَاءِ الْكَلِمَاتِ كَمَا يُعَلِّمُ الْمُعَلِّمُ
الْغِلْمَانَ الْكِتَابَةَ وَيَقُولُ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَتَعَوَّذُ مِنْهُنَّ دُبُرَ الصَّلَاةِ اللَّهُمَّ
إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ
الْعُمُرِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ
الْقَبْرِ
“Dari Sa’ad
bin Abi Waqqas r.a ia mengajarkan pada anaknya beberapa kalima, lalu ia berkata
sesungguhnyaRasulullah SAW, ia memohon perlindungan dari beberapa hal setelah
selesai shalat (dengan mewmbaca):” Allahumma inii a’u-dzubika minal jubni wa
a’u-dzubika an uradda ila- adzalil ‘umuri wa a’u-dzubika min fitnatid dunya- wa
a’u-dzubika min ‘udza-bil qabri ”[7]
Dalam satu
riwayat yang juga bersumber dari Sa’ad bin Abi Waqash Imam Bukhari dan beberapa
perawi hadits lainnya meriwayatkan dengan tanpa kalimat دُبُرَ الصَّلَاةِ :
عَنْ سَعْدِ
بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ كَانَ يَأْمُرُ بِهَؤُلَاءِ الْخَمْسِ
وَيُحَدِّثُهُنَّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهُمَّ
إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَأَعُوذُ بِكَ
أَنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا
وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ
“Dari Sa’ad
bin Abi Waqqas r.a ia menyuruh memohon perlindungan dari lima perkara, dan ia
menyampaikan hadits tentang lima perkara itu dari nabi saw; Allahumma inii
a’u-dzubika minal bukhli wa a’u-dzubika munal jubni wa a’u-dzubika an
uradda ila- adzalil ‘umuri wa a’u-dzubika min fitnatid dunya- wa a’u-dzubika
min ‘udza-bil qabri“.
- Membaca Do’a Allahumma A’innii…
اللَّهُمَّ
أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
Berdasarkan
hadits dari Mu’adz bin Jabbal:
عَنْ مُعَاذِ
بْنِ جَبَلٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخَذَ
بِيَدِهِ وَقَالَ يَا مُعَاذُ وَاللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ وَاللَّهِ إِنِّي
لَأُحِبُّكَ فَقَالَ أُوصِيكَ يَا مُعَاذُ لَا تَدَعَنَّ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ
تَقُولُ اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
وَأَوْصَى بِذَلِكَ مُعَاذٌ الصُّنَابِحِيَّ وَأَوْصَى بِهِ الصُّنَابِحِيُّ أَبَا
عَبْدِ الرَّحْمَنِ
“Dari Muadz
bin Jabbal bahwasanya Rasulullah saw memegang tangannya, lalu ia berkata;”
Mu’adz, demi Allah aku sungguh menyukaimu wahai Mu’adz. Kemudian ia berkata
lagi:”Aku akan memberi pesan kepadamu, wahai mu’adz, setiap selesai shalat
janganlah kamu tinggalkan mengucapkan Allahumma a’innii ‘alaa dzikrika wahusni
‘ibaadatik.[8]
- Membaca Rabbi Qinii….
رَبِّ قِنِي
عَذَابَكَ يَوْمَ تَبْعَثُ أَوْ تَجْمَعُ عِبَادَكَ
“Tuhan kami
lindungilah kami dari adzabmu, pada hari Engkau bangkitkan atau Engkau
kumpulkan hamba-hambaMu”.
Berdasarkan
hadits dari Bara’:
عَنْ الْبَرَاءِ
قَالَ كُنَّا إِذَا صَلَّيْنَا خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ أَحْبَبْنَا أَنْ نَكُونَ عَنْ يَمِينِهِ يُقْبِلُ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ
قَالَ فَسَمِعْتُهُ يَقُولُ رَبِّ قِنِي عَذَابَكَ يَوْمَ تَبْعَثُ أَوْ تَجْمَعُ
عِبَادَكَ
Dari Bara ia
berkata adalah kami apabila shalat dibelakang rasulullah SAW, kami menyukai
berada di (samping) kanan beliau, karena beliau akan menghadapkan wajahnya ke
arah kami. Ia berkata, lalu aku mendengar beliau mengucapkan “Rabbi qinii
‘adzaabaka yauma tab’atsu au tajma’u ‘ibaadak”.[9]
- Membaca Ayat Kursi
Berdasarkan
hadits dari Abu Umamah:
عن أبى
أُمَامَةَ، يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمْ:”مَنْ قَرَأَ آيَةَ الْكُرْسِيِّ دُبُرَ كُلِّ صَلاةٍ مَكْتُوبَةٍ لَمْ
يَمْنَعْهُ مِنْ دُخُولِ الْجَنَّةِ، إِلا الْمَوْتُ”،
“Abu Umamah
berkata: Rasulullah bersabda:”Barangsiapa yang membaca ayat kursi diakhir
shalat wajib, tidak ada yang bisa menghalanginya untuk masuk surga sampai mati”.[10]
- Membaca Al Mu’awwidzaat (Al Ikhlas, Al Falaq dan An Naas)
Berdasarkan
hadits dari ‘Uqbah bin ‘Amir:
عَنْ
عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ قَالَ أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ أَنْ أَقْرَأَ الْمُعَوِّذَاتِ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ
“Diriwayatkan
dari ‘Uqbah ibn ‘Amir ia berkata: “Rasulullah saw menyuruhku untuk membaca
surat Mu’awwidzaat (al Ikhlas, al Falak, dan an Naas) pada setiap selesai
shalat”.[11]
[1]
QS. Al Baqarah: 255
[2]
HR. Muslim (al Masajid Wa Mawadli’us Shalat: 931), Tirmidzi (As
Shalat: 276), Abu Daud (As Shalat: 1292), Ibnu Majjah (iqaamatus
Shalat wa Sunnati fiha: 918), Ahmad (Musnad Ahmad:
21374), Ad Darimi (As Shalat: 1314)
[3]
HR. Muslim, Ahmad dan Ad Darimi
[4]
HR. Muslim (al Masaajid wa Mawadli’us Shalat: 935), Abu Dawud (As
Shalat: 1288), An Nasa’I (As Sahwu: 122 & 123), dan Ahmad
(Musnad: 15523 & 15538).
[5]
HR. Bukhari (al Adzan: 799, Ad da’awat: 5855, al
I’tisham bil kitab wa Sunnah: 6748), Muslim (al Masaajid wa
Mawadli’us Shalat: 933 & 934), juga diriwayatkan oleh An Nasa’I,
Abu Dawud, Ahmad, dan Ad Darimi
[6]
HR. Muslim (al Masaajid wa Mawadli’us Shalat: 939), Abu Dawud (As
Shalat: 1286), Ahmad (Musnad: 8478 & 9878), Muwatha imam Malik (al
Nidaa lis Shalat: 439).
[7]
Hadits tersebut diriwayatkan oleh Bukhari (al Jihaad was sair: 2610),
Tirmidzi (ad Da’awaat: 3490), An Nasa’i (al Isti’adzat: 5352
& 5384)
[8]
HR. Abu Dawud (As Shalat: 1301) dan Ahmad (Musnad: 21103). Dalam
beberapa riwayat yang juga bersumber dari Mu’adz bin Jabbal tanpa kalimat دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ, akan tetapi فِي كُلِّ صَلَاةٍ , lalu Ibnul Qayyim berpendapat
bahwa do’a tersebut bisa dibaca dalam shalat dan setelah shalat (Zaadul Ma’ad)
[9]
HR. Muslim (Shalat al Musaafir wa Qashrihaa: 1159), dan Ahmad (Musnad: 17819
& 17962)
[10]
HR. Nasa’I dan Thabrani, jilid 7 hal. 122. Hadits tersebut juga diriwayatkan
oleh Ibnu Sunni dengan sanad Hasan. (lihat kitab Zaadul Ma’aad, karya Ibnul
Qayyim Al Jauziyyah hal. 293)
[11]
HR. Tirmidzi (Fadlaailul Qur’an an Rasulullah:2828), An Nasa’i (al
Sahwu:1319), dan Abu Dawud (al Shalah: 1302).
